Tujuan Program

  • Membangun kesadaran akan pentingnya kemandirian diri dan kemandirian Ummat Islam.
  • Menumbuhkan & Mengembangkan Spiritual Leadership
  • Menumbuhkan Motivasi dalam diri
  • Membangun jiwa team work

Materi

  • Pandangan Islam terhadap amal (kerja)
  • Spiritual Leadership
  • Motivasi
  • Creative thinking & problem solving
  • Team Building
  • Preview Kuliah Reguler PerubatanIslam & Manajemen Klinik

Trainer

  • Team trainer IT HPA
  • Leader & Pelaku usaha HPA

Waktu & tempat Pelaksanaan

  • Hari          : Sabtu – Ahad
  • Tanggal  :  01 – 02 Mei 2010
  • Jam          : 07.30 – 17.00
  • Tempat   : Kampus IT HPA. Komp. Kampus Univ. Jakarta, Villa Tanah Mas, Jl. Pulomas Barat Jakarta Timur. Telp. (021) 47864578

Pendaftaran

  • Via sms: ketik nama_daerah_no hp_namapelatihan kirim ke 087877688573
  • email: ithpa@yahoo.com

Biaya

  • GRATIS

Kuliah Reguler Perubatan Islam & Manajemen Klinik

  • KULIAH REGULER PERUBATAN ISLAM & MANAJEMEN KLINIK akan dimulai tgl 03 Mei 2010, peserta  Kuliah Reguler Perubatan Islam di WAJIBKAN mengikut Program awal, yakni : PROGRAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN (PPK) ANGKATAN Ke-9
  • PPK ini Gratis dan disediakan penginapan bagi peserta diluar daerah

Latar Belakang

Perlunya sebuah sistem pendidikan yang berkesinambungan dan terpadu dalam rangka menyiapkan tenaga kerja siap pakai bagi HPA dan ummat Islam pada keseluruhan.

Membantu menyiapkan tenaga tenaga yang terlatih dan memahami visi misi perjuangan HPA dalam membangun suatu kejayaan ekonomi ummat.

Visi

Menjadi sistem pendidikan terpercaya yang  membawa ummat pada kejayaan melalui aktivitas Keilmuan, penelitian dan pengembangan usaha dalam kerangka syariah.

Misi

  • Menyiapkan tenaga kerja yang handal dari aspek spiritual dan teknis.
  • Menyiapkan tenaga kerja siap pakai yang memiliki jiwa entrepreneurship
  • Melakukan proses edukasi kepada masyarakat akan pentingnya hidup secara halal & thayyib.

Kegiatan

  • Memberikan Wawasan dan Skill tentang Perubatan Islam & Manajemen Klinik
  • Menyelenggarakan pendidikan terutama di bidang kesehatan untuk menyiapkan tenaga kerja yang handal dari aspek spiritual dan teknis.
  • Melatih jiwa entrepreneurship bagi seluruh mahasiswa melalui pembelajaran praktis secara teori dan praktek.
  • Membangun jaringan dengan lembaga-lembaga yang memiliki visi pengembangan dan pemberdayaan potensi ummat.
  • Melakukan pelatihan, seminar dan kegiatan lainnya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan produk dan jasa yang halal & thayyib.

Waktu Kuliah

  • Angkatan ke-II : 03 Mei 2010 (Kuliah Selama 3 Bulan)
  • Setiap Senin s/d  Jum’at (Jam : 17.00 – 21.00 WIB)
  • Setiap Sabtu (Jam : 08.00 – 16.00 WIB)

Uang Kuliah

  • Rp. 1.200.000,-/Bulan (Pendidikan untuk setiap Mahasiswa)

Home Stay / Penginapan

  • Rp.    800.000,-/Bulan (Bagi Mahasiswa yang menginap di Home Stay)

Informasi

Kampus IT HPA

Komp. Universitas Jakarta (UNIJA) Villa Tanah Mas Jl. Pulomas Barat Jakarta Timur

Telp. 021-47864578 Email: ithpa@yahoo.com

Pendaftaran

  • Muamalat  a/n  Zaidul Akbar  No : 9100970599
  • Minimal DP 50% dari Biaya Pendidikan (Kelas Terbatas Hanya 20 Orang)
  • Pada saat mendaftar konfirmasi sms : REG_PIMK_NAMA ANDA_BESAR TRANSFER_TGL.TRANSFER  kirim ke 087877688573
  • Bukti Transfer kirim melalui Fax : 021-47864578

KULIAH REGULER PERUBATAN ISLAM & MANAJEMEN KLINIK akan dimulai tgl 03 Mei 2010, peserta di WAJIBKAN ikut kuliah Perdana, yakni :
PROGRAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN (PPK)
Hari / Tanggal : Sabtu-Ahad, 01 – 02 Mei 2010
Pukul               : 07.00 – 17.30 WIB
Tempat           : Kampus IT HPA
PPK ini GRATIS dan disediakan penginapan bagi peserta dari luar kota.

IKUTILAH…!

TRAINING & WORKSHOP BEKAM PROFESIONAL

ANGKATAN KE-3

SABTU – AHAD, 17 – 18 APRIL 2010

PUKUL 09.00 – 16.00

TEMPAT DI KANTOR IT HPA, PULOMAS, JAKARTA TIMUR

BIAYA Rp. 200.000,- (Makan, Snack, CD Materi, Sertifikat)

Medio bulan Maret, Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) diberikan kesempatan untuk mengirim putra Nuu Waar untuk mengikuti pelatihan Sijil Herbalis di Sungai Petani, Kedah, Malaysia. Pelatihan ini diadakan oleh HPA Industries Sdn.Bhd, sebuah perusahaan internasional yang concern dalam pengadaan produk-produk halal dan thayyib. Selain itu, HPA juga tak kalah seriusnya dalam melakukan pengembangan khazanah Islam dalam bidang kedokteran, yakni thibbun nabawi.

Alhamdulillah, sebanyak 12 orang putra Nuu Waar dikirim untuk mengikuti pelatihan tersebut. Mereka-mereka adalah: Abdurrahman Urbun, M Syihabudin Al-Keledar, Qayyum Karatlau, Iskandar Sifra, Hari Ruminsir, Abdul Gafur Warfandu, Hasan Rahanyamtel, Muhammad Ali Akbar, Armin Ufnia, Ismail Refidenso, Yani Madu, dan Abdul Manaf.

Namun, Allah berkehendak lain. Belum genap satu minggu pelatihan ini berjalan, Yani Madu meninggal dunia dipanggil Allah SWT. Abdul Manaf yang juga sahabatnya pun tak bisa melanjutkan pelatihan karena harus ikut mengantar jenazah almarhum kembali ke bumi Nuu Waar.

Berikut ini kesan-kesan 10 orang putra Nuu Waar yang telah berhasil mengikuti pelatihan tersebut. Merekalah generasi awal penyebar dakwahh thibbun nabawi di bumi Nuu Waar:

Berita lebih lengkap, silakan link berita di atas dalam blog resmi Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara: www.dakwahafkn.wordpress.com

Penggunaan janin bayi yang sengaja digugurkan ini bukan merupakan suat hal yang dirahasiakan publik. Sel line janin yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya diambil dari bagian tubuh seperti paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, thyroid, thymus, dan hati yang diperoleh dari aborsi janin.
Vaksin untuk cacar air, hepatitis A, dan MMR diperoleh dengan menggunakan fetal cell line yang diaborsi, MRC-5, dan WI-38. Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line lipoid manusia.

Tabel di bawah ini menunjukkan jenis vaksin yang diperoleh dari praktik aborsi:
Penyakit Vaksin Produsen Sel Line (human fetal)
Polio Poliovax Aventis-Pasteur MRC-5
Measles Mumps Rubella MMR II Merck & Co RA273 & WI38
Meales-Rubella Biavax II Merck & Co RA273 & WI38
Rubella Only MR-VAX Merck & Co RA273 & WI38
Rabies Imovax Aventis-Pasteur MRC-5
Hepatitis A Hivrax
Vagt Glaxo Merck & Co MRC-5
Hepatitis A-B combo Twinnix Glaxo Smith Kline MRC-5
Chickenpox Varixax Merck & Co WI 38 & MRC-5
Smallpox Acambix 1000 Acambis MRC-5
Ebola Unknown Merck & Co PER C6
HIV Unknown Merck & Co PER C6
Sepsis Xigris Eli Lilley HEK 293
Influenza Unknown Medimmune PER C6
Sumber: Jurnal Halal LPPOM MUI

http://www.halalguide.info/2009/05/04/kehalalan-vaksin

Enam tahun menghabiskan waktu untuk belajar di Fakultas Kedokteran di universitas negeri ini, bukanlah masa yang singkat. Namun realita selama 6 tahun tersebut dapat berubah dengan pemikiran-pemikiran yang bagi sebagian orang terkesan tidak masuk akal, kuno, ketinggalan zaman, dan lain sebagainya.

Hal inilah yang terjadi pada diriku, ketika pertama kali menginjakkan kaki di dunia Thibbun Nabawi (Pengobatan Nabi).

Seorang Muslim mempunyai  aturan aturan yang dia wajib yakini dan percayai akan kebenarannya tanpa perlu ia memikirkan hal itu dengan logika-logika atau teori-teori ilmiahnya.

Banyak sekali, khazanah ilmu pengetahuan dalam Thibbun Nabawi ini yang ternyata mempunyai keagungan yang sangat tinggi. Sayangnya, tidak banyak orang yang ingin menerapkannya.

Kegundahan inilah yang membuatku terus menerus berada dalam kebimbangan yang pada akhirnya aku memutuskan untuk hijrah total dalam Thibbun Nabawi ini.

Perasaan bahagia mulai memasuki setiap hari dalam kehidupanku waktu itu, kegembiraan yang begitu nyata. Misalnya, ketika memberikan obat-obatan yang Rasulullah sampaikan kepada setiap orang, tidak hanya pasien.

Tak terasa semakin hari, Allah berikan kemudahan. Baik kemudahan yang Allah Subahanahu wa Ta’ala tuntun kepadaku untuk terus mencari ilmu, juga bertemu dengan orang-orang yang belum pernah terfikirkan sebelumnya.

Dan keberkahan itu pun mulai datang perlahan-lahan seiiring dengan jaringan silaturrahim yang terus datang silih berganti setiap saat.

Bertemu dengan pasien setiap hari menjadi suatu kegembiraan baru bagiku. Memberikan semangat semangat kepada mereka, memberikan obat yang halal dan thoyyib kepada mereka menjadi suatu hal yang begitu menyenangkan bagiku setiap hari.

Inilah kegembiraan yang hakiki, kegembiraan yang tak mampu terlukiskan dengan kata kata ketika kesejukan, kedamaian, dan kesenangan yang terus mengisi relung relung hati.

Aku merasa lebih tenang setiap hari, lebih bahagia setiap hari, karena ketika mengajak saudara-saudara itu untuk “sekedar” berbekam, meminum madu, meminum habatussauda, dan lainnya, tapi ternyata Allah memberikan  keberkahan dan keberlimpahan yang luar biasa dalam setiap hari-hariku.

Dan sekarang berkumpul dengan jamaah besar di bawah slogan  “Produk Halal Tanggung Jawab Bersama” menjadikan hari-hariku terasa makin menantang untuk ku lalui, hari-hari yang penuh dengan perjuangan untuk mengajak saudara-saudara yang ada di belahan manapun di bumi ini untuk menkonsumsi semua yang halal dan juga thoyyib agar amal ibadah kita diterima meski sangat sedikit yang masih dikerjakan untuk membela agama ini.

Inilah yang bisa saya lakukan untuk membela agama Engkau ya Robbul alami.***

(Diceritakan oleh Dokter Zaidul Akbar)

Jelang musim Haji 1430 H lalu, menjadi hari – hari sibuk bagi pemerintah. Tidak hanya karena kewajiban pemerintah yang harus mengurusi teknis pemberangkatan dua ratus ribuan jamaah, namun juga sibuk untuk menangkal isu mengenai ditemukannya zat haram dalam vaksin meningitis. LPPOM Majelis Ulama Islam Sumatera Selatan telah menyimpulkan bahwa Vaksin Meningitis mengandung enzim porchin dari babi.

Bahkan Direktur LPPOM MUI Nadratuzzaman, sebagaimana dikutip melalui Republika (28/04/2009), menyatakan bahwa ini masalah lama, kita tahu, Depertemen Kesehatan Ri juga tahu. Dan banyak vaksin yang mengandung enzim babi, bukan hanya vaksin meningitis saja.

Penggunaan Enzim Babi

Penggunaan Enzim babi yang menjadi bagian dari kontroversi seputar vaksin, ialah tripsin, yaitu yang dihasilkan oleh pankreas dan dikeluarkan ke dalam usus halus. Saat ini tripsin babi banyak digunakan karena kemiripan materi genetik (DNA) babi dengan manusia yaitu sebesar 96%.

Enzim merupakan polimer biologis yang memiliki peran sebagai katalisator, yaitu mengatur kecepatan berlangsungnya berbagai proses fisiologis di dalam tubuh. Enzim ini menjadi alat untuk disintegrasi agregat-agregat sel atau untuk melepaskan sel dari permukaan mikrokarier atau tempat kultivasi.

Selama ini, vaksin dipercaya sebagai sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan pada tubuh terhadap virus. Vaksin diberikan untuk membantu sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit.

Di dalamnya terkandung satu bagian kecil dari mikroba (bakteri atau virus) atau produk toksin yang dapat menimbulkan penyakit dan bersifat sebagai antigen (yang akan merangsang respon kekebalan tubuh)., dimana tubuh akan mengenali antigennya sehingga dapat memberikan perlawanan.

Terdapat dua jenis vaksin, yakni hidup dan mati. Untuk membuat vaksin hidup, virus hidup dilemahkan dengan melepaskan virus ke dalam tisu organ dan darah binatang, (seperti ginjal monyet dan anjing, embrio anak ayam, protein telur ayam dan bebek, serum janin sapi, otak kelinci, darah babi atau kuda dan nanah cacar sapi) beberapa kali (dengan proses bertahap) hingga kurang lebih 50 kali untuk mengurangi potensinya.

Sebagai contoh virus campak dilepaskan ke dalam embrio anak ayam, virus polio menggunakan ginjal monyet, dan virus Rubela menggunakan sel – sel diploid manusia (bagian tubuh janin yang digugurkan). Sedangkan vaksin yang mati dilemahkan dengan pemanasan, radiasi atau reaksi kimia.

Kuman yang lemah ini kemudian dikuatkan dengan Adjuvan (perangsang anti bodi) dan stabilisator (sebagai pengawet untuk mempertahankan khasiat vaksin selama disimpan). Hal ini dilakukan dengan menambah obat, antibiotik dan bahan kimia. Bahan kimia tersebut, seperti formaldehid dan thimerosal.

Untuk kasus di Indonesia, kita sering mendengar praktik vaksinasi yang dilakukan terutama pada bayi dan balita, yaitu utamanya Polio. Vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda, dan ekstrak mentah lambung babi.

Selain itu, beberapa vaksin juga diperoleh dari aborsi janin manusia yang sengaja digugurkan. Vaksin untuk cacar air, Hepatitis A, dan MMR diperoleh dengan menggunakan fetall cell line yang diaborsi, MRC-5, dan WI-38. Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line diploid manusia.

Penggunaan janin bayi yang sengaja digugurkan ini bukan merupakan suatu hal yang dirahasiakan pada publik. Sel line yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya diambil dari bagian paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, thyroid, thymus, dan hati yang diperoleh dari aborsi terpisah. Penamaan isolat biasanya dikaitkan dengan sumber yang diperoleh misalnya WI-38 adalah isolat yang diperoleh dari paru-paru bayi perempuan berumur 3 bulan.

Selain itu, penggunaan bahan tambahan, seperti yang disebut di atas, yaitu formaldehid dan thimerosal juga diyakini mempunyai efek jangka panjang yang justru mengkhawatirkan bagi tubuh. Formaldehid misalnya, zat yang merupakan asal muasal bagi formalin (pengawet mayat), yang menempati peringkat ke-5 dari 12 bahan kimia paling berbahaya, disinyalir dapat menyebabkan kanker. Sedangkan, thymerosal merupakan unsur ke-2 yang paling beracun kepada manusia setelah uranium, nyatanya dapat merusak otak dan sistem syaraf yang juga mengantarkan pada penyakit autoimun.

Penolakan vaksin oleh pakar kesehatan

Selain zat yang sarat kimiawi berbahaya, upaya vaksinasi juga sebenarnya mengalami penentangan dari beberapa pakar kesehatan. Dr. J. Anthony Morris—mantan Ketua Pengawas Vaksin, misalnya menyatakan bahwa terdapat banyak bukti yang menunjukkan imunisasi terhadap anak lebih banyak merugikan daripada manfaatnya.

Komentar serupa datang dari dr. R. Mendelsohn—penulis How to Raise A Healthy Child I Spite Of Your Doctor dan Profesor Pediatrik, yang menyatakan bahwa ancaman terbesar serangan penyakit anak – anak datang dari usia pencegahan yang tidak efektif dan berbahaya melalui imunisasi besar – besaran.

Bahkan komentar lebih mengejutkan hadir dari dr. James A. Shannon—Institut Kesehatan Nasional AS, yang menyimpulkan bahwa satu – satunya vaksin yang aman adalah tidak menggunakannya sama sekali.

Keraguan terhadap efektifitas vaksin juga datang dari Pakar Bedah Umum, Leonard Scheele di Konferensi AMA Amerika Serikat pada 1955, yang menyatakan bahwa tidak satupun vaksin yang telah dibuktikan keamanannya sebelum diberikan kepada anak – anak. Fakta pada 2002 juga menyebutkan bahwa seorang dari sepuluh anak – anak dan remaja AS mengalami kelemahan fisik dan mental.

Menimbang kebermanfaatan

Setelah melihat apa yang terkandung dalam vaksin, serta kejelasan mengenai kehalalannya. Dan juga cara kerja, serta keraguan akan efektifitas dalam mencegah timbulnya penyakit. Maka sudah seharusnya, kita dapat mengambil kesimpulan untuk kembali mempertimbangkan penggunaan vaksin dalam kehidupan kesehatan kita.

Karena, bukankah Allah telah mengingatkan kita untuk menghindari apa – apa yang telah ditetapkan sebagai yang haram. Oleh karena itu, permasalahan vaksin yang merupakan permasalahan usang ini, maka sudah seharusnya menjadi perhatian khusus bagi umat Islam sendiri.

Kehadiran vaksin halal tentunya bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. Namun demikian, pola hidup yang sehat sebenarnya adalah utama yang dapat mencegah penyakit.

Mengenai permasalahan penyakit Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa :

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan untuk kamu bahwa setiap penyakit ada obatnya. Oleh karena itu, berobatlah tetapi jangan berobat dengan yang haram”.***

(Ichsan Kamil, dari berbagai sumber)

Sumber: Buku “Ada Apa Dengan Vaksin?” karya Odas Tsun Jhana

Judul Buku   : Niat, Sebuah Pantulan Cahaya Iman

Penulis           : Tn Hj Ismail bin Hj Ahmad

Penerbit        : HPA Industries

Cetakan         : Pertama, September 2009

Tebal              : vi + 84 halaman

Jika seorang anggota HPA ditanya, “Apa niat Anda bergabung dengan HPA?” Bisa jadi setiap mereka akan mempunyai jawaban yang berbeda-beda. Tergantung pada motivasi awal dari anggota masing-masing. Motivasi tentu saja dipengaruhi oleh niat yang ada pada setiap jiwa.

Menurut penulis yang juga sekaligus Pengarah Urusan HPA, seharusnya jawaban itu sama. Itulah harapan langsung dari sang penulis. Melalui buku penulis ingin memberikan panduan kepada semua anggota HPA agar memiliki niat yang sama dan benar dalam berjuang bersama HPA. Ia menuturkan dalam prakata bukunya, Sebagai rasa tanggungjawab seorang majikan kepada pekerjanya agar tidak tersalah  dalam melakukan pekerjaannya.

Niat menurut  penulis adalah satu hal yang amat sangat penting dalam kehidupan kita sebagai umat Islam. Dalam ajaran Islam, niat merupakan kunci dinilainya sebuah amalan seorang Muslim. Tak heran jika para ulama menaruh perhatian sangat besar terhadap masalah niat ini. Banyak di antara mereka yang membahas masalah niat di muqadimah kitab yang mereka tulis. Karena itu sudah sepantasnya jika seorang Muslim sangat memperhatikan setiap niat dari amalannya.

Termasuk niat bergabung dengan HPA. Di bagian akhir, penulis secara khusus membahas mengenai “Niat Bersama HPA”. Dikatakan penulis bahwa HPA bukanlah semata-mata wadah untuk berbisnis guna menangguk keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Tapi HPA adalah wadah perjuangan untuk terus memperbaiki diri menjadi insan yang bertaqwa, dengan jalan menyediakan produk-produk halal dan thayyib bagi umat Islam.

Karena itu jika seseorang hendak bergabung dengan HPA maka penulis menganjurkan untuk meluruskan niatnya terlebih dahulu. Niatnya harus semata-mata ikhlas karena Allah Subahanahu wa Ta’ala (SWT). serta memiliki rasa amanah sebagai seorang hamba dan juga seorang pekerja. Jika sudah demikian maka ia akan menjadi pribadi yang tangguh dalam berjuang bersama HPA. Ia tidak akan mudah goyah oleh ajakan maupun ejekan yang datang silih berganti. Sebab dapat dipastikan akan datang banyak ujian bagi hamba Allah SWT yang memperjuangkan agama-Nya.

Semua ini bertujuan, agar dikemudian hari, ketika sudah sama-sama berjuang dengan HPA, para anggota HPA tidak terjebak penyakit hubbuddunya (cinta dunia). Sebab menurut penulis, penyakit inilah yang biasanya membuat ukhuwah retak hingga menyebabkan hancurnya sebuah organisasi.

Yang harus diingat menurut penulis adalah bahwa niat yang benar harus didasari dengan ilmu. Karena itu mempelajari ilmu tentang niat adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Agar niat yang ia bangun senantiasa berdasarkan kepada dalil-dalil al-Quran dan as-sunnah.

Setelah itu, penulis mengajak, niat baik yang sudah dibangun di awal itu harus terus dijaga dan diperbaharui, sebab ada kalanya niat itu berubah mejadi jelek di tengah-tengah atau bahkan di akhir perjalanan sebuah amal. Jika ini terjadi, maka amalam itu tidak akan diterima sebagai amal shalih oleh Allah SWT.

Salah satu kelebihan buku ini adalah, setiap pembahasan senantiasa menyertakan dalil-dalil yang shahih, baik dari al-Quran, as-sunnah, maupun pendapat para ulama. Sehingga kebenaran isinya sangat bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu di akhir setiap pembahasan terdapat ringkasan berupa poin-poin penting. Ini tentu memudahkan kita untuk mengambil intisari dari pembahasan di dalam buku ini.

Mari luruskan niat kita dalam berjuang bersama HPA. (Dwi Budiman)

Oleh: Ir Tata Saputra, Direktur IT HPA

Medio September 2009, Jawa Barat digoyang gempa. Gempa berkekuatan 7,2 SR itu menghancurkan rumah-rumah di Tasikmalaya, Garut, Cianjur, dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat. Sebagai bentuk kepeduliaan terhadap sesama, Herba Penawar Alwahida (HPA) yang dipimpin langsung oleh Tn Haji Ismail bin Hj Ahmad terjun ke lokasi bencana, terutama di Pengalengan, Jawa Barat.

Di sinilah semua ini bermula. Saat berhari-hari tim HPA tidur bersama penduduk di tenda-tenda pengungsi. Selain memberikan pelayanan kesehatan, kami juga mendengar dan melihat berbagai potensi yang ada, baik manusia dan alam sekitar. Yang juga membuat kami tergugah adalah semangat masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan. Untuk mendukung semangat itu, HPA akan mendirikan pabrik saos (sauce) di tempat mereka, guna mendukung rencana kehadiran restoran sehat dan halal milik HPA di Indonesia, RFC dan RPH. Gayung pun bersambut. Para petani di Pengalengan menerima dengan sukacita.

Keriangan itu timbul karena dengan itu hasil pertanian mereka, seperti tanaman Cabe dan Tomat akan segera dijadikan bahan dasar utama untuk pembuatan saos organik. Alhamdulillah, sejak beberapa bulan lalu mereka telah mengolah lahan yang mereka miliki. Sementara di Garut Selatan, para petani yang lain melakukan penanaman jagung.

Rencana lainnya di Jawa Barat, tepatnya di Banjaran, HPA akan melakukan penanaman herba dan pembuatan pupuk organik. Selain itu juga akan dibuat pabrik pakan ternak organik, kandang ayam organik, serta rumah potongan ayam syariah, cool storage di Pesantren Asyiffa Subang. Kesemuanya itu dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan  pesantren dengan langsung melibatkan masyarakat. Namun, kesemua itu diawali dengan mengikuti training di IT-HPA (Institute Teknologi HPA) sebagai syarat kerjasama yang dilakukan.

Seiring perkembangan era baru HPA di Indonesia, kami bersyukur karena semakin ramai orang bersemangat untuk membantu perjuangan ini. Kami  berusaha untuk menempatkan  pada posisi “membantu” perjuangan ini, kami tidak pernah ingin menjadi apapun di HPA Indonesia ini. Kami  hanyalah bagian kecil yg menginginkan agar  para pelaku dakwah di Indonesia memiliki satu mimpi yang sama yaitu menjadikan “Produk Halal Tanggung Jawab Bersama” bukan sebuah slogan tapi menjadi kenyataan.

IT-HPA adalah merupakan satu lembaga yang secara khusus didirikan oleh HPA Sdn Bhd Malaysia. Lembaga ini bertugas memberikan bekal kepada siapa saja yang ingin memiliki keahlian bidang pengobatan Islami, juga diperuntukan bagi produsen produk Muslim di Indonesia agar terus berupaya menghasilkan produk halalan thoyyiban. Semua itu difasilitasi melalui berbagai pelatihan yang diselenggarakan IT HPA dengan tujuan memberikan pemahaman visi misi dan keberkahan perniagaan HPA di Indonesia.

Menempat lantai 2 Universitas Jakarta, Pulomas, IT HPA melakukan berbagai pelatihan. Kini telah ada 7 angkatan pelatihan kewirausahaaan, antara lain kelas Even Organizer, kelas Perubatan Islam dan Manajemen Klinik, serta pelatihan-pelatihan terapan untuk masyarakat umum dan para pengurus masjid yang diberikan secara gratis.

Dan alhamdulillah, dalam waktu yang sangat singkat sambutan masyarakat sangat luar biasa, tak kurang dari kekuatan besar IIBF (Indonesian Islamic Bussines Forum) menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan HPA guna menghasilkan produk milik Muslim. Tak sampai di situ, OPOP (One Pesantren One Product) adalah sebuah gagasan cemerlang yang insya Allah dalam waktu dekat akan sanggup menggantikan produk harian  yang digunakan saat ini, kita ganti dengan produk-produk yang dibuat oleh tangan kita sendiri.

Harapan kami ke depan adalah  sebuah mimpi yang sama untuk menjadi kekuatan yang sangat besar, dimana terjalinnya seluruh potensi umat. Kami tim IT-HPA meminjam kata bijak  Tn Haji, “Saya  hanya menumpang berkah dari perjalanan ini.”***

Oleh : Dokter Zaidul Akbar (Wakil Direktur IT HPA)

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab [33]:21)

Islam telah datang ke muka bumi ini dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) dengan membawa satu kesempurnaan dalam bidang dan sisi apapun dalam kehidupan manusia, termasuk juga dalam bidang  kesehatan.

Rasulullah sebagai uswatun hasanah (suritauladan baik) semua manusia, memang tidak di utus menjadi tabib atau dokter ke dunia ini. Namun apa yang beliau sampaikan ke pada umatnya, terutama dalam bidang kesehatan adalah suatu hal yang mempunyai khazanah ilmu pengetahuan yang sangat tinggi. Dari sinilah konsep Thibbun Nabawi (kedokteran nabi ) itu bermula. Sehingga oleh seorang ulama besar, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, khazanah-khazanah dalam bidang kesehatan ini dirangkum dalam sebuah buku yang bertajuk “Kitab Pengobatan Nabi”.

Konsep pengobatan dalam Thibbun Nabawi ini adalah suatu konsep yang akan terus update dengan masa kapan saja  dan dimana saja. Pasalnya, apa yang Nabi sampaikan adalah sesuatu yang memang Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) bimbing melalui wahyu.

Konsep konsep pengobatan dalam Islam itu antara lain :

Pertama, Keyakinan. Ketika seseorang sakit, ia harus sangat menyakini bahwa sakit yang dialaminya tersebut berasal dari Allah SWT, dan Allah juga yang akan menyembuhkannya. Seperti dalam firman-Nya:

Dan apabila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku..” (Asy-Syu’araa [36]:80)

Di samping itu ada juga Hadits yang berbunyi, “Lii Kulli Daa In dawaun.” Artinya:  “Setiap penyakit pasti ada obatnya.”

Dari kedua hujjah ini, seseorang yang menderita suatu penyakit, seyogyanya mempunyai suatu keyakinan yang sangat kuat bahwa tiada satu pun yang ada di dunia ini yang mampu menyembuhkan kecuali Allah ‘Azza wa Jalla melalui izin-Nya.

Seseorang yang menderita suatu penyakit haruslah mempunyai keyakinan yang sangat kuat bahwa semua penyakit pasti ada obatnya, karena demikianlah memang yang dikabarkan oleh Rasulullah mengenai hal tersebut, bahkan beliau menyebutkan hanya ada dua penyakit yang tidak bisa disembuhkan, yaitu: Mati dan Pikun.

Oleh Karena itu jika kita mendapatkan manusia yang mengatakan bahwa suatu penyakit tidak ada obatnya dan tidak bisa disembuhkan , maka ucapan  ini menjadi  bertentangan dengan apa  yang disampaikan oleh Rasulullah dan wajib bagi kita untuk menolaknya.

Kedua, Menggunakan obat yang halal dan thoyyib. “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan setiap penyakit pasti ada obatnya.Maka berobatlah kalian, tapi jangan dengan yang haram.” (Riwayat Abu Dawud)

Konsep kedua dalam pengobatan Islam adalah menggunakan obat  yang halal dan thoyyib. Ada hal yang penting dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW melalui Hadits ini.

Dari sini dapat kita pahami bahwa tidak mungkin obat obat  yang digunakan seseorang adalah sesuatu yang haram, karena pastinya ketika Allah menciptakan suatu penyakit, Allah juga menurunkan obatnya, namun karena Allah Maha Suci (Al-Quddus), tidaklah mungkin Allah akan menurunkan penawarnya dari benda yang haram.

Hal ini patut kita cermati, karena kita sekarang banyak mendapati obat obatan yang digunakan pada masa kini, ternyata berasal dari barang haram, termasuk gelatin yang banyak sekali digunakan dalam dunia pengobatan masa kini yang ternyata berasal dari babi. Sebagai contoh, LPPOM –MUI banyak mendapatkan ternyata cangkang kapsul yang digunakan untuk obat, banyak dihasilkan dari gelatin babi.

Hal ini patut menjadi perhatian kita semua, karena perihal halal haram menjadi suatu hal yang sangat penting dalam Islam yang  bisa membuat amalan seseorang tidak diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla karena permasalahan haramnya obat yang dia minum.

Ketiga, Tidak membawa mudharat yang akan mencacatkan tubuh. Dalam pengobatan Islam, kita di anjurkan untuk tidak melakukan pengobatan yang kiranya pengobatan tersebut membawa kemudharatan yang justru menimbulkan masalah baru bagi seseorang.

Oleh karena itu dalam Thibbun Nabawi semampu mungkin kita menjaga tubuh yang sempurna ini dengan tidak melakukan tindakan tindakan yang dapat merusak tubuh kita.

Keempat, Tidak berbau takhayul, bid’ah, dan khurafat. Ketiga hal di atas selain harus dihindari juga bisa mengakibatkan pelakunya jatuh dalam jurang kekafiran. Dapat kita bayangkan dalam rangka berobat justru Akidah tergadai, hal ini tentunya sangat disesalkan.

Realita ini sangat sering kita lihat dalam dunia pengobatan sekarang, termasuk menggunakan media media tertentu dalam pengobatan yang tidak ada dalam tuntunan islam atau yang pernah di ajarkan Rasulullah.

Kelima, Mencari yang lebih baik. Dalam Thibbun Nabawi, seseorang dianjurkan untuk terus berikhtiar sampai penyakit itu sembuh atas izin Allah. Sesungguhnya Allah tidak hanya melihat kesembuhan yang akan dicapai, tapi proses menuju kesembuhan itupun akan dinilai oleh Nya, apakah ia melakukan hal yang dilarang untuk berobat. Jadi jika sembuh namun Akidah tergadai apalah artinya kesembuhan tersebut.

Adanya konsep pengobatan dalam Thibbun Nabawi ini menjadikan suatu  aturan bagi yang terlibat di sini, sehingga keberkahan dan kesempurnaan dari Thibbun Nabawi tersebut dapat terus dijaga. Wallahu a’lam

© 2010 IT HPA Suffusion WordPress theme by Sayontan Sinha