Habib al-Huda sedang membaca doa pada saat pelepasan Kapal Dakwah Bahtera Nusantara di Bojonegara

Kisah perjalanan seorang musafir HPA menuju negeri paling Timur Indonesia bernama Nuu Waar

Luar biasa. Demikian kesan Ustadz Habib al-Huda yang baru saja menjalankan dakwah fi sabilillah di Nuu Waar selama sebulan. Pak Habib, demikian kami biasa memanggil, berangkat ke Nuu Waar pada tanggal 28 Mei 2010. Pria yang biasa mengenakan gamis ini berangkat ke Nuu Waar menggunakan Kapal Bahtera Nusantara, yang merupakan sumbangan dari HPA Industries, Sdn. Bhd untuk dakwah di Nuu Waar. Ia mengajak dua anaknya; Muhammad Barakah dan Ali bin Amir.

“Alhamdulillah mereka berdua bersemangat ikut dakwah di Nuu Waar bersama Ustadz Fadzlan dan dai-dai lainnya,” ujar Pak Habib saat bincang-bincang di Kampus IT HPA Indonesia, Pulomas, Jakarta Timur.

Kepergian Pak Habib ke Nuu Waar dalam rangka memberikan syiar Islam ke saudara-saudara Muslim yang ada di Nuu Waar. Menurut Pak Habib, selama ini ia hanya banyak mendengar cerita tentang saudara-saudara Muslim di Nuu Waar. “Pak Habib sangat ingin bertemu mereka, serta mengajarkan ilmu yang Pak Habib punya,” aku pria murah senyum ini. Selain itu, kepergiaan kemarin itu juga merupakan arahan dari Tn Haji Ismail bin Haji Ahmad, Pengarah Urusan HPA Industries Sdn. Bhd.

“Pak Habib siap saja berangkat ke manapun demi dakwah. Perkembangan ekonomi ini harus dibarengi dengan gencarnya dakwah, kalau tidak begitu menjadi tidak seimbang,” ungkapnya lagi.

Untuk sampai di Fakfak, Pak Habib menempuh perjalanan laut selama 19 hari. Angin kencang, ombak besar, laut yang gelap gulita kala malam, serta kekhawatiran lainnya harus ia hadapi dengan tegar. Niat yang kuat untuk bisa bertemu saudara-saudara muslim di Nuu Waar sudah teramat kuat, hingga rintangan alam yang mencemaskan itu pun ia hadapi dengan sabar.  Satu keyakinannya, Allah Ta’ala pasti akan memudahkan perjalanan suci ini. Rintangan itu semata-mata ujian keimanan dan keistiqomahan dirinya.

Pak Habib bercerita, Allah SWT sempat mengujinya saat berada singgah di salah satu pelabuhan di Geser, Ambon. Ketika itu Kapal Bahtera Nusantara sedang berlabuh, hanya saja tidak bersandar di pelabuhan, padahal Pak Habib ada keperluan ke darat. Cukup jauh jarak ke darat, Pak Habib tak tahu pasti berapa jaraknya. Untuk itu, Pak Habib memanggil pemilik perahu kecil untuk menjemputnya di kapal. Tak lama, perahu kecil beserta pemiliknya menghampiri Pak Habib yang berada di atas kapal. Lalu, Pak Habib mengambil langkah untuk pindah ke atas perahu. Tiba-tiba….

“Perahu itu tidak seimbang, saya dan pemiliknya tercebur ke dalam laut. Pak Habib terbawa gelombang laut yang cukup besar, sekitar 100 meter. Alhamdulillah, Pak Habib sedikit-sedikit bisa berenang,” ungkapnya serius. Tak lama, lanjut Pak Habib, kru kapal Bahtera Nusantara melemparkan pelampung ke arah saya. “Atas izin Allah SWT, saya bisa diselamatkan,” kata Pak Habib.

Saat dalam kondisi terbawa air itu, terbesit sebuah janji dalam hati Pak Habib. “Kalau saya selamat dari gelombang ini, saya akan puasa selama 3 bulan,” batinnya. Makanya saat bincang-bincang kecil ini, saat seorang teman menawari makanan. “Silakan Pak Habib dimakan rujaknya,” kata seorang teman.

Pak Habib menolak dengan lembut, “Terima kasih Pak Habib sedang puasa nazar, sekarang baru 21 hari.”

Di kalangan teman-temannya, pria asal Batam, Sumatera bagian Selatan ini memang istiqomah. Amanah dan tugas yang diembankan kepadanya selalu berupaya ia jalankan.  BERSAMBUNG. Abu Zanki/IT HPA Indonesia

Leave a Reply

(required)

(required)

© 2010 IT HPA Suffusion WordPress theme by Sayontan Sinha